Keluarga Yakin Korban Lahar Dingin Masih Tertimbun

Kompas.com - 15/05/2012, 14:07 WIB

TERNATE, KOMPAS.com - Upaya pencarian korban hilang atas peristiwa banjir lahar dingin Gunung Gamalama belum juga ditemukan. Padahal, pencarian korban hilang itu sudah dilakukan hingga ke Pulau Tidore, Pulau Moti dan Pulau Mare. Pihak keluarga meyakini korban hilang masih tertimbun material banjir lahar dingin.

Harun Ahmad warga Dufadufa Kota Ternate Utara, Selasa (15/5/2012) mengaku istri dan anaknya yang menjadi korban hilang atas peristiwa itu hingga kini belum juga ditemukan. Dia menyakini jasad istri dan anaknya itu masih tertimbun material lahar dingin.

"Karena sudah dicari hingga ke Tidore tapi belum dapat. Saya yakin mereka tertimbun bukan hanyut," ucap Harun.

Dia juga meyakini istri dan anaknya sudah meninggal saat dinyatakan hilang. Karenanya, dia mengaku telah melaksanakan tahlinan untuk istri dan anaknya itu. Disisisi lain, Harun justru menyesalkan upaya pencarian korban hilang yang dilakukan Pemerintah Kota Ternate.

Bagi Harun, upaya pencarian itu terkesan sangat lamban. Apalagi, beberapa alat berat yang hingga kini masih sibuk mengangkat material lahar dingin di berbagai titik kejadian, terkesan tidak serius mencari korban hilang.

Harun menilai kinerja alat berat lebih terkesan mengambil material lahar dingin berupa pasir yang diterbawa dari lereng gunung saat terjadi banjir. Padahal semestinya masih kata Harun, keberadaan alat berat di lokasi banjir harus mengutamakan pencarian korban hilang.

Sementara itu keluarga korban hilang lainnya justru meminta Pemerintah Kota Ternate agar menambah armada alat berat untuk mencari korban hilang yang diyakini masih tertimbun material lahar dingin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau